Kementerian Kebudayaan menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta untuk membahas peta jalan musik Indonesia Timur. Forum ini mempertemukan musisi, pelaku industri, dan perwakilan pemerintah guna merumuskan identitas genre, akses pasar, serta keberlanjutan ekosistem musik kawasan timur.
Salah satu hasil utama diskusi adalah munculnya usulan nama genre kolektif TIMURNESIA sebagai payung identitas musik Indonesia Timur di tingkat nasional dan global.
Musik Indonesia Timur Dinilai Punya Identitas dan Pasar Kuat
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyoroti meningkatnya popularitas musik Indonesia Timur dalam beberapa tahun terakhir. Banyak karya dari kawasan timur viral di platform digital dan menembus pasar nasional hingga internasional.
Menurutnya, fenomena ini bukan tren sesaat, melainkan sinyal kuat adanya identitas musikal yang khas dan potensi pasar yang besar. Musik berbasis akar budaya serta bahasa daerah terbukti mampu menjangkau audiens luas tanpa kehilangan karakter.
Kementerian Kebudayaan menegaskan perannya sebagai fasilitator ekosistem, sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional.
Era Digital Buka Peluang, Persaingan Makin Ketat
Musisi sekaligus Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, menilai lanskap industri musik telah berubah drastis. Jika dulu promosi bergantung pada televisi nasional, kini platform digital memberi ruang rilis mandiri bagi musisi.
Namun kemudahan distribusi juga membuat persaingan semakin padat. Dalam situasi ini, keberhasilan musisi Indonesia Timur menembus pasar digital dinilai sebagai capaian penting bagi perkembangan industri musik nasional.
Pentingnya Penamaan Genre untuk Perlindungan Identitas
Deddy Corbuzier, Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Sosial dan Publik, mengingatkan risiko klaim identitas oleh pihak luar jika genre musik Indonesia Timur tidak memiliki penamaan yang jelas.
Menurutnya, banyak musisi timur tampil di panggung internasional. Tanpa identitas genre yang kuat, pengakuan budaya berpotensi bergeser. Karena itu, penamaan genre dinilai strategis, tidak hanya secara kultural tetapi juga geopolitik budaya.
Musisi Timur Dorong “Rumah Besar” Ekosistem Musik
Musisi Gorontalo, Ecko Show, menjelaskan bahwa musik Indonesia Timur berkembang secara organik, termasuk kategori lagu pesta dan lagu acara yang populer di publik. Namun ia menegaskan spektrum musik timur sangat luas dan tidak tunggal.
Ia mengusulkan pembentukan “rumah” ekosistem musik Indonesia Timur agar setiap warna musikal memiliki ruang dan dukungan setara.
Usulan Nama Genre Global: TIMURNESIA
Dalam sesi forum, Toton Caribo menyampaikan usulan nama genre TIMURNESIA, yang juga diinisiasi oleh Silet Open Up. Nama ini diharapkan menjadi identitas kolektif yang mudah dikenali secara internasional, seperti K-pop atau hip hop.
Peserta FGD merespons positif usulan tersebut sebagai langkah awal membangun branding global musik Indonesia Timur yang inklusif dan representatif.
Menuju Cetak Biru Musik Indonesia Timur
FGD ini menjadi bagian dari penyusunan cetak biru pengembangan musik Indonesia Timur. Program ini akan terhubung dengan agenda nasional seperti Konferensi Musik Indonesia dan Manajemen Talenta Nasional.
Target akhirnya adalah memperkuat daya saing musisi Indonesia Timur melalui identitas genre yang jelas, ekosistem yang terstruktur, dan pengakuan berkelanjutan di pasar global.