band alt-rock Inveigh menyuntikkan api emosinya lewat single terbaru berjudul “Amarah”. Masih dibalut riff gitar padat dan distorsi yang menggelayut tajam, superband beranggotakan Julius Bagus (Take This Life), Anizar Yasmeen (Extreme Decay), Eltria Raffi (Dazzle), dan Raditia Putra (Young Savages) tersebut menyuarakan kritik sosial yang tajam terhadap ketidakadilan, korupsi, dan kesenjangan sosial yang terjadi akibat kesewenang-wenangan penguasa. Tanpa sungkan, Inveigh dengan lantang merangkai lirik yang brutal, jujur, dan eksplisit.
“Tentu sumber inspirasi terbesar adalah orang-orang di atas sana. Seperti kebanyakan orang alami/dengar semakin hari semakin banyak kabar buruk tentang pemerintah. Tidak berhenti di situ, kami juga sangat sebal pada oligarki yang mengeksploitasi alam dan pekerja, dan juga sesama rakyat yang berjiwa korup dan memanfaatkan keadaan, merugikan rakyat lain untuk keuntungan mereka sendiri,” ungkap Inveigh dengan geram.
Bencana alam yang tidak tertangani dengan baik, pemangku jabatan yang terkesan acuh pada kondisi masyarakat, hingga ekonomi rakyat yang sekarat hanya segelintir fenomena yang dirasakan dan diamati Inveigh sebelum menulis “Amarah”. Sebagai musisi dengan usia matang, sudah merupakan beban moral bagi band ini untuk menyuarakan keresahan personal ataupun kolektif. Apabila di awal lagu terdengar keputusasaan, maka di akhir timbul semangat
untuk pemberontakan.
Pertama kali berbicara tentang keresahan kolektif di single ini, Inveigh mengungkapkan bahwa tema secara keseluruhan dari karya mereka masih seputar kekhawatiran bagi orang yang telah menginjak usia 30 tahun ke atas seperti proyek terdahulu mereka di EP “Dinamika” dan single “Bertahan”. Secara sound, Inveigh mengeksplorasi karakter-karakter musik rock yang lebih heavy dan down-tempo untuk menyesuaikan tema lagu.
Semakin istimewa, Inveigh juga mengajak musisi asal Surabaya yakni Bimantara yang juga merupakan anggota band Timeless untuk menyumbangkan suara dan membuat cover artwork “Amarah”.
Menjadi proyek kolaborasi perdana, band ini bercerita “Ada part yang cukup melodius di akhir, pada part lagu lirik yang berupa perlawanan untuk bangkit, menolak tertindas dengan kesadaran sebagai senjata. Part ini kami rasa cukup cocok dengan karakter vokal Bima
di bandnya, Timeless.”
Bimantara menginterpretasikan lagu “Amarah” secara visual dengan simbolisme seekor kalajengking yang siap menyengat. Dirasa representatif bagi lagu yang penuh kemurkaan ini, hewan golongan serangga tersebut juga melambangkan Inveigh sebagai musisi yang masih memiliki kewarasan dan memiliki suara untuk melawan.
Resmi dirilis pada 27 Oktober 2026 di tengah situasi kebakaran hutan yang tak kunjung reda di Kalimantan, Sumatera, dan Papua, Inveigh berharap “Amarah” bisa beresonansi dengan banyak pendengar untuk terus tidak lelah berjuang, walaupun seringkali kebebasan berpendapat ikut dikekang. Dukung karya dan berita terbaru tentang Inveigh di media sosial @inveigh.inveigh.













