Film Indonesia menunjukkan penguatan signifikan di panggung sinema dunia sepanjang 2025. Berdasarkan riset Cinema Poetica, tercatat 126 film Indonesia beredar di festival internasional serta 9 proyek film mengikuti laboratorium dan forum pendanaan global. Angka ini meningkat tajam dibandingkan 78 film pada 2024 dan 73 film pada 2023.
Sepanjang 2025, film Indonesia menjangkau 91 festival di 36 negara yang tersebar di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Dari capaian tersebut, film Indonesia berhasil meraih 48 penghargaan internasional, terdiri dari 23 film fiksi pendek, 18 fiksi panjang, 5 dokumenter pendek, dan 2 dokumenter panjang. Selain itu, proyek film dalam tahap pengembangan juga mengantongi 4 penghargaan internasional.
Adrian Jonathan dari Cinema Poetica menilai capaian ini menegaskan posisi sinema Indonesia yang semakin diperhitungkan secara global. Ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah, dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui fasilitasi forum strategis, festival internasional, dan perluasan jejaring global.
Pangku Jadi Simbol Keberhasilan Festival dan Pasar Domestik
Salah satu film paling menonjol adalah Pangku (2025), debut penyutradaraan film panjang Reza Rahadian. Film ini meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, termasuk FIPRESCI Award dan KB Vision Audience Award, serta NETPAC Jury Prize di QCinema International Film Festival 2025, Filipina.
Di dalam negeri, Pangku mencatat lebih dari 560 ribu penonton, meraih Film Cerita Panjang Terbaik FFI 2025, dan menjadi contoh sukses film Indonesia yang mampu menjembatani prestasi festival internasional dengan penerimaan publik luas.
Film Komersial Indonesia Tembus Pasar Global
Selain jalur festival, film Indonesia juga menguat di pasar internasional. Jumbo (2025) dipastikan tayang di bioskop Meksiko mulai Januari 2026 dan telah memperoleh hak edar di lebih dari 40 negara. Sementara Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025) menembus bioskop Malaysia hanya sepekan setelah rilis domestik.
Di Indonesia, kedua film ini mencatat lebih dari 10 juta penonton, menempatkannya di jajaran film terlaris Asia Tenggara.
Film Pendek, Dokumenter, dan Warisan Sinema
Film pendek dan dokumenter Indonesia juga tampil kuat di festival nonarusutama. Judul seperti Little Rebels Cinema Club, Daly City, dan Sammi, Who Can Detach His Body Parts meraih puluhan penghargaan internasional sekaligus memperoleh kualifikasi Academy Awards 2026.
Dari sisi sejarah, film klasik Turang (1957) karya Bachtiar Siagian diputar di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025 dalam program 70 tahun Konferensi Asia Afrika. Sementara La Cinémathèque française menggelar retrospeksi 10 film Indonesia dalam rangka 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Prancis.
Ko-produksi dan Ekosistem Global
Skema ko-produksi internasional juga kian berkembang. Film Renoir, hasil kolaborasi Indonesia dengan Jepang, Prancis, Singapura, dan Filipina, meraih berbagai penghargaan serta masuk seleksi kompetisi Festival Film Cannes. Proyek lain dari Kamila Andini dan Makbul Mubarak turut memperoleh dukungan pendanaan internasional.
Keseluruhan capaian ini menegaskan bahwa film Indonesia 2025 tidak hanya hadir di festival besar dan bioskop komersial, tetapi juga aktif di ruang alternatif, laboratorium kreatif, museum, dan forum akademik. Sinema Indonesia kini tumbuh sebagai bagian penting dari ekosistem sinema global, dengan fondasi yang kian kuat, beragam, dan berkelanjutan.