× Beranda > Musik > Album > God Save Ayesha Rilis Album Terbaru “Requiem Of The Past”
Posted in

God Save Ayesha Rilis Album Terbaru “Requiem Of The Past”

Band alternative rock God Save Ayesha resmi memperkenalkan album terbaru mereka bertajuk Requiem of the Past, sebuah karya konseptual yang menyelami tema waktu, ingatan, kehilangan, dan penerimaan diri. Album ini hadir sebagai perjalanan emosional yang intim sekaligus reflektif, dibalut atmosfer sinematik dan nuansa gelap yang khas.

Melalui Requiem of the Past, God Save Ayesha mengajak pendengar masuk ke dalam meditasi tentang luka batin dan proses berdamai dengannya. Perpaduan gitar melankolis, vokal sendu, serta lanskap suara atmosferik membentuk pengalaman mendengarkan yang imersif—seolah masa lalu dan masa kini saling bertabrakan dalam satu ruang waktu.

Narasi Emosional dari Amarah hingga Penerimaan

Album ini dibangun dengan alur naratif yang merepresentasikan tahapan kehidupan manusia. Dimulai dari kemarahan dan frustrasi, turun ke jurang keputusasaan, lalu berakhir pada keheningan penerimaan. Setiap lagu menjadi fragmen emosi—potongan kenangan, penyesalan, hingga refleksi—yang menyusun potret seseorang dalam proses memahami dirinya sendiri.

“Lagu-lagu ini adalah pengakuan,” ujar God Save Ayesha. “Bukan tentang mengalahkan rasa sakit, tapi tentang berdamai dengannya.”

Alih-alih menghapus luka, Requiem of the Past merayakan rasa sakit sebagai bagian dari kemanusiaan—sebuah sumber kebijaksanaan yang terbentuk dari pengalaman hidup.

Perpaduan Alternative Rock dan Keintiman Puitis

Secara musikal, album ini memadukan energi mentah alternative rock dengan sentuhan puitis yang intim. Dentuman gitar berat berpadu dengan atmosfer lembut, sementara vokal yang rapuh dan jujur menuntun pendengar menyusuri lanskap emosional yang personal namun universal.

Suara dalam Requiem of the Past terasa tak terikat waktu—seperti kenangan yang terus hidup dan berulang dalam bahasa arwah.

Konsep Album: Requiem of the Past

Requiem of the Past mengikuti kisah seorang narator yang menoleh ke masa lalunya, menyusun kembali amarah, kehilangan, kerinduan, dan perenungan. Setiap lagu merepresentasikan satu fase perjalanan emosional—dari kemarahan menuju kerapuhan, dari keputusasaan menuju penerimaan.

Seiring berjalannya album, narator mempertanyakan asal mula penderitaannya: dari mana datangnya, bagaimana ia bertahan, dan apakah luka itu dapat dikendalikan. Ketakutan akan mewariskan rasa sakit kepada orang terdekat turut menjadi bagian dari konflik batin, hingga akhirnya berujung pada pencarian penebusan melalui pemahaman diri.

Di penutup album, kisah mencapai sebuah resolusi yang tenang. Bukan kemenangan, melainkan gencatan senjata—penerimaan bahwa rasa sakit adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia.

 

Tentang God Save Ayesha

Muncul dari skena alternatif bawah tanah, God Save Ayesha dikenal lewat karakter musik yang emosional, gelap, dan menghantui. Dengan memadukan elemen rock, punk, dan narasi ambient, mereka menghadirkan karya-karya yang sarat introspeksi dan pencarian makna.

Penampilan panggung mereka dikenal muram dan teatrikal, memadukan kerentanan lirik dengan intensitas sonik yang kuat. Musik God Save Ayesha kerap mengaburkan batas antara pengakuan personal dan pertunjukan artistik.

Melalui Requiem of the Past, God Save Ayesha menegaskan visinya untuk terus menciptakan album yang imersif—menangkap kegetiran sekaligus keindahan dari sekadar “ada”.