Musisi Cakra Barani kembali menghadirkan karya musik yang sarat kritik sosial. Kali ini, ia merilis single terbaru berjudul “Rantai” pada 8 November 2026. Melalui lagu tersebut, Cakra mengangkat persoalan korupsi yang tidak hanya melibatkan pelaku individu, tetapi juga dugaan keterlibatan jaringan yang saling melindungi demi mempertahankan kepentingan bersama.
Single “Rantai” menjadi kelanjutan dari karya sebelumnya, “20 Koper”, yang dirilis sebulan lebih awal. Konsistensi Cakra dalam mengangkat isu sosial melalui musik memperlihatkan arah musikalnya yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan dan kegelisahan terhadap berbagai persoalan di masyarakat.
Dalam “Rantai”, Cakra menggambarkan bagaimana sebuah praktik korupsi dapat berkembang menjadi lingkaran kepentingan yang sulit diputus. Mulai dari penghilangan jejak, penyamaran bukti, pembungkaman suara, hingga kesepakatan tersembunyi untuk menjaga rahasia masing-masing pihak.
“Jejak dihapus, bukti disamarkan, janji dibeli, suara dibungkamkan, di balik meja kesepakatan terjadi, satu rahasia menjaga yang lain tetap berdiri.”
- Annisa Dalimunthe Tampil Perdana di Festival Musik Remember Fest 2026, Sukses Memukau Penonton di Imarindo Corner
- Billkiss Kembali Lewat “Tjukup Kamoe”, Debut Maulin sebagai Penulis Lagu Jadi Warna Baru Perjalanan Duo Indie Pop
- Billkiss Meriahkan Remember Fest 2026, Bawakan Empat Lagu Andalan di Panggung Imarindo Corner
Lirik tersebut menjadi representasi kritik Cakra terhadap pola saling melindungi yang menurutnya dapat membuat praktik korupsi terus berlangsung dan semakin sulit diungkap.
Ia menegaskan, persoalan korupsi tidak semestinya hanya dilihat sebagai tindakan satu orang, sebab dalam sejumlah situasi terdapat pola keterlibatan banyak pihak yang memiliki kepentingan untuk menjaga sistem tersebut tetap berjalan.
“Kita sudah tidak mau lagi menyebut hal itu direkayasa oleh satu orang saja, melainkan dilakukan secara beramai-ramai atau berjamaah,” tegasnya.
Lebih lanjut, gitaris muda tersebut menjelaskan bahwa judul “Rantai” memiliki makna simbolis tentang hubungan antarpihak yang saling berkaitan. Ketika satu bagian berusaha memutus mata rantai tersebut, pihak yang berupaya mengungkap persoalan justru berpotensi menghadapi tekanan atau disingkirkan.
“Mereka sudah satu rantai, apabila ada satu orang yang menghalangi rantai itu berputar, maka akan diganti atau disingkirkan. Satu terbuka, seribu terbongkar. Tangan-tangan berdosa menutup dosa di balik diam,” ungkap Cakra kepada wartawan melalui WhatsApp.
Bagi Cakra, perilisan “Rantai” merupakan bentuk ekspresi artistik sekaligus penyampaian kritik terhadap praktik korupsi yang dinilai merugikan negara dan masyarakat, termasuk persoalan yang berkaitan dengan lingkungan instansi pemerintahan.
- Etenia Croft Raih AMI Awards 2026, “Sahabat Terbaik” Dinobatkan sebagai Artis Solo Anak-Anak Terbaik
- HUMERROR Rilis Album Debut “Liturgy of the Synthetic Gods”, Usung Grindcore dan Deathgrind Bertema Distopia
- Sundari Gasong Comeback Lewat Single “Janda G3N Z”, Usung Hipdut dengan Pesan Pemberdayaan Perempuan
Ia berharap lagu ini dapat menjadi pengingat bahwa transparansi, keberanian mengungkap kebenaran, serta pertanggungjawaban merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan sosial dan pemerintahan yang lebih baik.
Dengan menggabungkan kekuatan musik dan pesan kritik sosial, Cakra Barani ingin menjadikan “Rantai” lebih dari sekadar single terbaru. Lagu ini diharapkan mampu mengajak pendengar untuk lebih peduli terhadap persoalan korupsi dan tidak menutup mata terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Single “Rantai” resmi dirilis pada 8 November 2026 dan kini dapat dinikmati melalui berbagai platform musik digital.













