Nama Chrisye tidak pernah benar-benar jauh dari perjalanan musik Indonesia. Chrismansyah Rahadi atau lebih dikenal sebagai Chrisye merupakan salah satu maestro musik Indonesia yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan musik Tanah Air.
Kecintaan Chrisye terhadap musik telah tumbuh sejak era 1960-an. Saat itu, ia aktif sebagai pemain bass di sejumlah grup musik, termasuk Sabda Nada dan Gipsy. Perjalanan panjang tersebut kemudian mengantarkannya menjadi salah satu solois paling berpengaruh di Indonesia, terutama setelah merilis album Sabda Alam pada 1978.
Sepanjang kariernya, Chrisye melahirkan puluhan album dan sejumlah karya ikonik yang hingga kini masih melekat di hati masyarakat. Musiknya tidak hanya menjadi bagian penting dari zamannya, tetapi juga terus dikenang dan didengarkan oleh berbagai generasi.
Puluhan Tahun Bersama Musica Studio’s
Hubungan Chrisye dengan Musica Studio’s juga menjadi bagian penting dalam perjalanan karier sang legenda. Kolaborasi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun, dimulai sejak album Sabda Alam hingga Senyawa.
Dalam perjalanan tersebut, Chrisye mempercayakan berbagai aspek pengelolaan karya musiknya kepada Musica Studio’s, mulai dari master recording, publishing, hingga pengelolaan brand image.
Untuk memperingati hari kelahiran Chrisye yang jatuh pada 16 September, Musica Studio’s menggelar acara bertajuk “A Day to Remember: Tribute to Chrisye” pada Selasa, 29 September 2026, di Dimsea, Jakarta Selatan.
Acara tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan dan warisan musik Chrisye sekaligus mempertemukan para musisi serta pelaku industri yang pernah bekerja sama dengannya sepanjang perjalanan karier.
Perwakilan keluarga Chrisye, sang putra Pasha Chrisye, turut hadir dalam acara tersebut bersama rekan-rekan media dan komunitas penggemar Chrisye.
Suasana semakin istimewa dengan penampilan sejumlah artis dari Musica Studio’s dan Firefly Records, yakni William Sihombing, Difki Khalif, Hanin Dhiya, Stevan Pasaribu, serta Rian D’Masiv.
Indrawati Widjaja Kenang Sosok Chrisye
Director & Executive Producer Musica Studio’s, Indrawati Widjaja, turut membagikan kenangannya mengenai sosok Chrisye yang telah dikenalnya sejak usia muda.
Ia menggambarkan Chrisye sebagai sosok yang baik, sederhana, rendah hati, profesional, serta memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya.
“Aku mengenal (Alm.) Mas Chrisye dari usia muda sekali, waktu masih 19 tahun di 1978. Ini sosoknya baik, sederhana dan rendah hati. Tidak pernah membeda-bedakan, sikapnya sama ke semua orang. Untuk soal kerjaan, dia sangat profesional, komit dan total dalam bekerja.”
Menurut Indrawati, Chrisye merupakan penyanyi sekaligus pencipta lagu dengan karya-karya yang sangat indah dan memiliki daya tahan lintas generasi.
“Buat aku, Mas Chrisye adalah seorang sahabat, keluarga dan partner kerja yang sangat luar biasa.”
Musica Studio’s Rilis Kembali “Sendiri”
Dalam acara tersebut, Musica Studio’s juga memperkenalkan proyek terbaru sebagai bagian dari upaya melestarikan legacy Chrisye. Salah satunya melalui perilisan kembali video musik “Sendiri”, dengan menghadirkan musisi dan arranger Addie MS sebagai bagian dari persembahan tersebut.
Lagu “Sendiri” pertama kali dibawakan Chrisye pada 1984 dan diaransemen oleh Addie MS. Lagu tersebut merupakan karya seniman besar Indonesia, Guruh Soekarnoputra, yang baru saja berpulang.
“Sendiri” menggambarkan sisi emosional mengenai kesepian, kehampaan, serta kegelisahan seseorang ketika menghadapi cobaan dan perjalanan hidup yang sunyi. Namun, di balik kesendirian tersebut tetap terdapat harapan akan petunjuk Tuhan.
Addie MS Napak Tilas Rekaman “Sendiri”
Bagi Addie MS, proyek remake video musik “Sendiri” memiliki makna emosional yang sangat kuat. Proses pembuatannya dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat ia merekam lagu tersebut bersama Chrisye 42 tahun silam. “Benar-benar momen yang sangat emosional buat saya, karena pembuatan remake music video lagu ‘Sendiri’ ini berlokasi di ruangan yang sama di mana saya merekam lagu ini bersama (Alm.) Chrisye 42 tahun yang lalu.”
Addie MS mengaku kembali teringat pada berbagai momen ketika dirinya bersama Chrisye berdiskusi dan mengerjakan proses rekaman lagu tersebut.
“Saya masuk ke studio ini saja sudah merinding. Belum lagi melihat ruang control room dan mixer-nya. Jadi teringat saya dulu di sini bersama Chrisye ngobrol, berdiskusi dan merekam lagu ‘Sendiri’. Ini seperti napak tilas, saya bernostalgia di ruangan bersejarah ini. Full circle moment.”
Mixing Ulang dari Master Original 1984
Tidak hanya menghadirkan kembali video musiknya, Addie MS juga memberikan sentuhan baru pada aspek tata suara lagu “Sendiri”.
Ia melakukan mixing ulang menggunakan master original yang direkam pada 1984. Menurut Addie, terdapat bagian dari aransemen lama yang selama ini masih menjadi ganjalan baginya, khususnya keseimbangan antara suara piano dan vokal Chrisye.
“Dulu saat lagu ini dirilis, saya merasa suara piano terlalu dominan dibanding suara vokalnya. Jadi tidak balance antara piano dan vokal. Untungnya, Musica memberikan kesempatan untuk menata ulang lagu ini dari segi tata suara.”
Dalam proses mixing ulang tersebut, suara piano dibuat lebih surut sehingga vokal Chrisye dapat terdengar lebih menonjol dan seimbang.
“Mudah-mudahan sekarang saya bisa tidur nyenyak setelah bertahun-tahun merasa terganggu karena hal ini. Hahaha…”
Bagi Addie MS, proyek ini bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah karya lama, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali musik Chrisye kepada generasi baru.
“Saya berharap dengan adanya remake video musik ‘Sendiri’, akan lebih memberikan kesempatan buat generasi sekarang mengenal dan mencintai lagu ini sama seperti dulu ketika lagu ini begitu populer di masanya.”
Melalui “A Day to Remember: Tribute to Chrisye” dan perilisan kembali video musik “Sendiri”, Musica Studio’s kembali menghadirkan karya Chrisye dalam konteks generasi masa kini. Warisan musik sang legenda pun terus mendapatkan ruang untuk dikenal, dinikmati, dan diapresiasi oleh pendengar lintas generasi.
