Dari Rehabilitasi ke Era Baru: Killing Me Inside RE:UNION Rilis “Senyawa dan Candu”
Tidak banyak band Indonesia yang berani membuka lembaran baru dengan cara sejujur ini. Killing Me Inside RE:UNION resmi comeback lewat single terbaru berjudul “Senyawa dan Candu”, lagu yang lahir dari fase paling sunyi dalam hidup sang vokalis, Onadio Leonardo.
Ditulis saat menjalani rehabilitasi selama tiga bulan, “Senyawa dan Candu” menjadi karya paling personal yang pernah dirilis Killing Me Inside RE:UNION. Lagu ini bukan sekadar comeback, melainkan ruang pengakuan, penyesalan, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
“Gue belum pernah bikin lagu se-personal ini. Ini benar-benar tentang gue,” ujar Onad, menggambarkan bagaimana masa rehabilitasi justru membawanya kembali ke proses menulis lagu dengan cara yang paling jujur.
Secara musikal, Killing Me Inside RE:UNION menghadirkan pendekatan baru. Bersama Raka, Sansan, dan Rudye, band ini meramu warna pop yang lebih ringan dengan emosi yang tetap kuat. Tak hanya dari sisi musik, perubahan juga terasa pada visual yang kini tampil lebih cerah—menandai fase rebranding yang matang.
Menariknya, “Senyawa dan Candu” juga menjadi lagu berbahasa Indonesia pertama Killing Me Inside RE:UNION setelah bertahun-tahun berkarya dalam bahasa Inggris. Keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan, melainkan sebagai bentuk pencarian formula yang paling jujur bagi identitas band saat ini.
“Kita akhirnya nemu ramuan yang kita suka,” kata Onad, menegaskan bahwa era baru ini bukan sekadar eksperimen, melainkan arah yang ingin mereka jalani ke depan.
Dirilis pada 13 Februari 2026, “Senyawa dan Candu” membuka rangkaian rencana Killing Me Inside RE:UNION sepanjang tahun ini. Selain single lanjutan, band juga memberi sinyal akan kembali merilis EP—sesuatu yang sudah lama dinantikan penggemar.
Kini, “Senyawa dan Candu” sudah dapat didengarkan di seluruh platform streaming digital, menjadi penanda bahwa dari keterpurukan, selalu ada ruang untuk memulai kembali.

