Perjalanan panjang Pestolaer dalam skena musik independen Indonesia kembali mendapat ruang untuk dikenang sekaligus diperkenalkan kepada pendengar generasi baru. Tiga puluh lima tahun setelah band tersebut memulai perjalanannya, sejumlah musisi lintas generasi berkumpul dalam proyek Tribute to Pestolaer: Nothing Best but Friends.
Proyek penghormatan ini diinisiasi oleh popaktif.id bersama Lost Wave Record sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan dan pengaruh Pestolaer dalam perkembangan musik underground Jakarta.
Pestolaer pertama kali terbentuk pada 1992 dengan formasi Taba (vokal), Nyoman (gitar), P.A (bass), dan Boris (drum). Pada periode awal, mereka hadir sebagai bagian dari gelombang punk rock di skena underground Jakarta pada era 1990-an. Salah satu jejak menarik dari fase tersebut adalah keberanian mereka membawakan sejumlah lagu milik Sex Pistols.
Namun, perjalanan Pestolaer tidak berhenti pada punk rock. Dua tahun setelah terbentuk, tepatnya pada 1994, mereka mengambil arah musikal yang berbeda dengan mengeksplorasi indie rock dan madchester. Perubahan tersebut turut dipengaruhi oleh band-band seperti The Charlatans dan The Stone Roses, memperlihatkan karakter Pestolaer yang terbuka terhadap perkembangan musik pada masanya.
12 Band Menginterpretasikan Lagu-Lagu Pestolaer
Semangat untuk menghidupkan kembali karya-karya Pestolaer kemudian diterjemahkan melalui album tribute yang menghadirkan 12 band dari lintas generasi dan genre.
Alih-alih sekadar memainkan ulang materi lama, masing-masing band diberikan ruang untuk memberikan interpretasi personal terhadap lagu Pestolaer. Hasilnya adalah sebuah album yang memperlihatkan bagaimana karya-karya tersebut dapat dibaca dan dimainkan kembali dengan perspektif musikal yang berbeda.
Daftar band dan lagu yang terdapat dalam Tribute to Pestolaer: Nothing Best but Friends adalah:
- And Bellyaches – “Colours”
- Furs – “Tribute for You”
- Fuzzya – “Istana Pasir”
- Gudtings – “Oempama”
- Kebunku – “Monas”
- Lipgloss – “Dermaga”
- Lucy Enigma – “Menari Tanpa Gerak”
- Shakaboyd – “Lay Down”
- The Bunbury – “New Decade”
- The Corner of My Room – “Terlalu Melamun”
- The North Palm – “Over You”
- The Portray – “Pemimpin Cahaya”
Variasi interpretasi menjadi salah satu daya tarik utama rilisan ini. “Colours” dibawakan oleh And Bellyaches, sementara Fuzzya memberikan pendekatan mereka terhadap “Istana Pasir”. Shakaboyd menghadirkan karakter berbeda melalui “Lay Down”, sedangkan The Corner of My Room membawa nuansa yang lebih ceria lewat “Terlalu Melamun”.
Sementara itu, The Portray mengambil “Pemimpin Cahaya” sebagai materi yang mereka tafsirkan kembali.
Seluruh proses mixing dikerjakan oleh masing-masing band, sedangkan tahap mastering dipercayakan kepada Danu Ega Haryanto.
Dirilis dalam Format Kaset pada 11 Oktober 2026
Tribute to Pestolaer: Nothing Best but Friends dijadwalkan hadir dalam format kaset pada 11 Oktober 2026.
Tanggal perilisan tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan hearing session yang berlangsung di Psychocandy Records, Kemang, Jakarta Selatan. Acara tersebut akan mempertemukan sejumlah pelaku musik dan penggiat skena independen untuk mendengarkan rilisan tribute tersebut sekaligus merayakan perjalanan Pestolaer.
Setelah hearing session, proyek ini juga direncanakan berlanjut melalui release party.
Musik, Merchandise, dan Kultur Independen
Perayaan terhadap Pestolaer tidak hanya diwujudkan melalui album musik. Proyek Nothing Best but Friends juga diperluas melalui kolaborasi merchandise bersama Gingham Box.
Dari sisi visual, proyek ini melibatkan Anggi Faradilla/Mica dari Lucy Enigma sebagai visual artwork & album layout artist. Kehadiran elemen visual dan merchandise tersebut memperluas proyek tribute ini menjadi pertemuan antara musik, fashion, desain, dan kultur independen.
Dengan pendekatan tersebut, Nothing Best but Friends tidak sekadar menjadi dokumentasi terhadap sebuah band dari masa lalu. Album ini juga menjadi medium untuk mempertemukan karya Pestolaer dengan musisi yang memiliki latar belakang, karakter, dan generasi berbeda.
Membawa Kembali Musik Pestolaer ke Pendengar Baru
Tiga puluh lima tahun perjalanan tentu bukan waktu yang singkat. Bagi Pestolaer, perjalanan tersebut meninggalkan jejak yang kemudian kembali dibicarakan melalui proyek tribute ini.
Tribute to Pestolaer: Nothing Best but Friends pada akhirnya menjadi bentuk perayaan terhadap musik yang pernah tumbuh dalam sebuah era, tetapi masih memiliki kesempatan untuk didengar kembali oleh generasi berikutnya.
Sebab, musik tidak selalu berakhir ketika sebuah periode selesai. Lagu-lagu dapat berpindah tangan, ditafsirkan ulang, dan menemukan makna baru ketika dimainkan oleh generasi yang berbeda.
Melalui 12 interpretasi dalam album ini, karya Pestolaer mendapatkan kesempatan untuk kembali bergerak—dari satu generasi ke generasi berikutnya.













