Festival musik cadas Rock in Solo 2026 resmi ditunda hingga 2027. Keputusan tersebut diambil panitia dengan mempertimbangkan situasi sosial, ekonomi, politik, dan keamanan di Indonesia, termasuk berbagai bencana alam serta persoalan ekologis yang tengah menjadi perhatian di sejumlah wilayah.
Melalui pernyataan resminya yang diawali dengan salam “Rahayu”, pihak penyelenggara menyampaikan bahwa kondisi nasional saat ini menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelanjutan festival. Sejumlah bencana, mulai dari gempa bumi di Flores, erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan di berbagai wilayah Kalimantan serta sebagian Sumatera, Sulawesi, dan Papua, turut menjadi perhatian panitia.
Penanganan berbagai persoalan tersebut juga dinilai belum maksimal. Situasi ini mendorong penyelenggara untuk mengambil keputusan yang tidak mudah, yakni menunda pelaksanaan Rock in Solo 2026 hingga tahun depan.
Rock in Solo Utamakan Kemanusiaan di Tengah Situasi Nasional
Dalam pernyataannya, panitia menegaskan bahwa keputusan menunda Rock in Solo 2026 bukan semata-mata berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah festival musik. Lebih dari itu, keputusan tersebut berangkat dari nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi perjalanan Rock in Solo, yakni kemanusiaan, etika, dan empati.
Penyelenggara mengakui bahwa mereka merasa tidak mampu untuk tetap menggelar perhelatan berskala besar di tengah situasi yang dinilai belum kondusif.
Bagi Rock in Solo, sebuah pertunjukan musik bukanlah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan. Ada persoalan kemanusiaan dan kondisi masyarakat yang dinilai jauh lebih penting untuk diperhatikan.
Sikap tersebut sekaligus menegaskan bahwa penyelenggaraan festival musik tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
A Journey of Rock in Solo Tetap Berlanjut
Meski pelaksanaan Rock in Solo 2026 ditunda hingga 2027, perjalanan festival ini tidak sepenuhnya berhenti. Panitia menyampaikan rencana untuk memulai rangkaian acara bertajuk A Journey of Rock in Solo dalam skala yang lebih memungkinkan.
Rangkaian acara tersebut direncanakan berlangsung dalam waktu dekat, dengan informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaannya akan diumumkan kemudian.
Langkah ini menjadi upaya untuk menjaga keberlanjutan perjalanan Rock in Solo sekaligus mempertahankan hubungan dengan komunitas dan para pendukungnya, tanpa mengabaikan situasi yang sedang dihadapi.
Bagi para penggemar musik keras dan komunitas yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Rock in Solo, pengumuman tersebut menandai perubahan jadwal, tetapi bukan akhir dari perjalanan festival musik ini.
Sejarah Rock in Solo Belum Berakhir
Menutup pernyataannya, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan dan sejarah Rock in Solo. Mereka juga berharap agar semua pihak senantiasa mendapatkan keselamatan dan keberkahan.
“Sejarah memang belum selesai ditulis, dan kami tidak mau menuliskannya di atas duka,” demikian pesan yang disampaikan penyelenggara.
Kalimat tersebut menjadi penegasan atas keputusan yang diambil sekaligus mencerminkan sikap Rock in Solo dalam menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan sebuah perhelatan musik.
Dengan ditundanya Rock in Solo 2026 hingga 2027, perhatian kini tertuju pada kelanjutan program A Journey of Rock in Solo yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, Rock in Solo memilih untuk melanjutkan perjalanannya dengan mempertimbangkan keadaan dan nilai-nilai yang menjadi dasar penyelenggaraannya.
Maturnuwun telah menjadi bagian dari sejarah Rock in Solo. Sakjose!













