Kancah musik ekstrem Indonesia kembali bergetar. Band black metal legendaris asal Ciledug, Tangerang, MAYITH, resmi kembali dengan album kedua bertajuk “Human Face Devils” yang dirilis pada 18 Maret 2026 di berbagai platform digital.
Comeback ini bukan sekadar nostalgia—melainkan pernyataan keras. “Human Face Devils” menyajikan potret brutal tentang sisi tergelap manusia: keserakahan, kemunafikan, ambisi kekuasaan, hingga kehancuran moral yang menjelma menjadi “iblis berwajah manusia”.
Lewat lirik yang tajam dan atmosfer yang mencekam, MAYITH mengangkat realitas dunia yang dipenuhi penindasan, manipulasi berkedok kebaikan, hingga kehancuran spiritual. Narasi album ini menggambarkan satu pesan kuat: ketika moral runtuh, “surga” pun bisa berubah menjadi neraka.
Secara musikal, MAYITH tampil lebih eksploratif. Tidak hanya agresif, mereka kini meramu black metal dengan sentuhan symphonic dan atmospheric, menciptakan lanskap suara yang lebih luas namun tetap gelap dan penuh amarah.
Terbentuk sejak 1994, MAYITH memulai perjalanan dari akar grindcore sebelum berkembang menjadi black metal. Nama “Mayith”—yang berarti jenazah perempuan—menjadi simbol identitas kelam yang terus mereka bawa hingga kini.
Setelah sempat merilis “Patricide” dalam kompilasi Neohelist (2003) dan album debut “The Power of Eternity” (2004), perjalanan mereka sempat terhenti cukup lama. Lebih dari satu dekade vakum, berbagai dinamika kehidupan membuat langkah band ini tertunda.
Kini, dengan formasi terbaru:
Mamo Bosas (Drum)
Idur Medusa (Gitar)
Nurdin (Bass)
Putra Crow (Keyboard)
Bonot Satanas (Vokal)
MAYITH akhirnya merampungkan 7 track dalam “Human Face Devils”—sebuah karya yang lahir dari proses panjang, penuh rintangan, dan dedikasi.
Terpengaruh oleh nama-nama besar seperti Napalm Death, Slayer, Sepultura hingga era baru seperti Dimmu Borgir, Cradle of Filth, Mayhem, dan Dark Funeral, MAYITH menunjukkan evolusi yang matang tanpa kehilangan identitas ekstrem mereka.
Kembalinya MAYITH menjadi sinyal kuat bahwa denyut black metal Indonesia masih hidup dan terus bergerak. Melalui rilisan ini, mereka menegaskan satu hal: skena tidak pernah benar-benar mati—hanya menunggu waktu untuk kembali mengguncang.
Dengan semangat “keep moving forward Indonesian black metal music”, MAYITH mengajak para penikmat musik keras untuk terus mendukung pergerakan bawah tanah yang tak pernah padam.
