Di saat banyak orang menyiapkan Ramadhan dengan sukacita, warga Desa Beurawang, Pidie Jaya, Aceh justru memulainya dari sisa-sisa banjir. Rumah belum sepenuhnya pulih, aktivitas belum kembali normal—namun kebutuhan hidup dan ibadah tetap berjalan.
Di titik ini, IDN Foundation dan Kitabisa hadir lewat program #IDNBerbagiRamadhan. Ratusan paket bantuan dibagikan: bahan pokok, perlengkapan dapur, hingga sajadah dan mukena.
Bantuan yang jelas dibutuhkan—tapi juga mengingatkan bahwa masih ada yang belum selesai: pemulihan jangka panjang.
Langkah ini diperluas lewat kolaborasi dengan Kepustakaan Populer Gramedia dan M&C Gramedia yang menyumbang buku untuk anak-anak.
Di tengah kondisi serba terbatas, akses bacaan jadi simbol kecil bahwa masa depan tetap diperjuangkan.
Namun di balik distribusi bantuan, ada pertanyaan yang lebih tajam, seberapa jauh aksi seperti ini mampu mengubah kondisi, bukan sekadar meredakan?
Program kemanusiaan sering hadir cepat, tapi tantangan sebenarnya ada pada keberlanjutan. Warga tidak hanya butuh paket Ramadhan—mereka butuh kepastian pemulihan, akses ekonomi, dan ruang hidup yang kembali layak.
Kolaborasi ini tetap penting. Ia menunjukkan bahwa gotong royong masih hidup. Tapi ke depan, ukuran keberhasilan bukan hanya pada jumlah bantuan yang tersalurkan—melainkan pada seberapa lama dampaknya bertahan setelah sorotan mereda.








