Event Untung, Musisi Buntung? Polemik Fee Nol Rupiah

  • Whatsapp

Di tengah ramainya event musik lokal, masih banyak musisi yang tampil tanpa fee—bahkan tanpa uang transport. Alasannya klasik: “ini buat exposure.”

Tapi pertanyaannya sederhana: apakah exposure bisa bayar bensin, makan, atau sewa studio?

Bacaan Lainnya

Realita di Balik Panggung

Banyak event skala kecil memang berjalan dengan budget terbatas. Tidak semua punya dukungan sponsor seperti Java Festival Production atau festival besar seperti We The Fest.

Namun masalahnya bukan selalu soal kecil atau besar.

Ada event yang:

Menjual tiket

Menggandeng sponsor

Produksi terlihat profesional

Tapi tetap tidak mengalokasikan fee untuk performer.

Di titik ini, yang dipertanyakan bukan dana—melainkan prioritas.

Musisi Bukan Pengisi Waktu Kosong

Musisi datang dengan:

Latihan berjam-jam

Biaya produksi lagu

Transport & logistik

Energi perform

Kalau semua lini produksi dibayar (venue, sound, dokumentasi), kenapa musisi justru dianggap bisa gratis?

Ironisnya, tanpa musisi—tidak ada acara.

Skema “Bagi Hasil” yang Tidak Seimbang

Beberapa event memakai sistem:

Revenue sharing tiket

Band wajib jual tiket

Fee dibayar jika penonton tembus target

Masalahnya, risiko sepenuhnya dibebankan ke musisi.

Padahal promotor juga punya tanggung jawab marketing.

Ini bukan kolaborasi. Ini pemindahan risiko.

Kapan Tampil Gratis Masih Masuk Akal?

Event komunitas non-profit

Acara solidaritas / charity

Showcase strategis yang jelas benefitnya

Kesepakatan transparan sejak awal

Selama ada komunikasi jujur dan tidak ada eksploitasi, itu pilihan.

Industri Sehat Dimulai dari Menghargai Karya

Jika kita ingin skena musik tumbuh profesional, maka standar harus dibangun dari sekarang.

Exposure itu bonus.

Fee adalah bentuk penghargaan.

Karena pada akhirnya panggung boleh gratis, tapi karya tidak pernah gratis.

 

Pos terkait