Di balik kabut tipis yang menyelimuti Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan, tumbuh biji kopi yang menyimpan jejak sejarah panjang dan cita rasa khas. Kopi Bantaeng, yang berasal dari kawasan ini, bukan sekadar minuman bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Keistimewaannya tak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada kisah yang menghubungkan alam, manusia, dan tradisi. Keberadaan kopi di Bantaeng diyakini telah ada sejak abad ke-16, ketika pedagang Arab membawa biji kopi ke wilayah ini. Kopi Bantaeng kemudian berkembang pesat pada masa kolonial Belanda, terutama…
Baca selengkapnyaTag: Sulawesi
Single debut LIIV – III: Apa yang Dalam gelap, MENUNGGUMU
Manusia sebagai satu dari banyak makhluk hidup yang dibekali sebuah nikmat yang bernama tidur, kerap kali tidak memaksimalkan pemberian tersebut. Entah karena ada sesuatu, atau memang kondisi yang menjebaknya di dalam lingkaran tersebut. Malam demi malam, ramu demi ramu sudah dicoba untuk mengatasi hal yang tidak mengenakkan tersebut. Hasilnya? Ada yang berhasil, tak sedikit yang masih tersiksa. Insomnia perlahan akan membatasi gerak, menghancurkan segala yang sudah dibangun, dan membunuh tubuh. Lewat rilisan debut ini, LIIV yang terbentuk di tahun 2024, menginterpretasikan apa yang dirasakan banyak orang (termasuk mereka juga) ke…
Baca selengkapnyaBuka Tahun dengan Semangat Baru! CMGN Hadir dengan “Sekali Lagi”
CMGN resmi merilis single terbaru berjudul “Sekali Lagi” pada tanggal 30 januari 2025. Lagu ini membawa pesan kuat tentang ketekunan, harapan, dan semangat untuk bangkit kembali. Dengan lirik yang penuh makna, Sekali Lagi mengajak pendengar untuk tidak larut dalam kegagalan, melainkan terus mencoba hingga berhasil. “Kita mulai dari mana? Cobalah mulai merasa, karena mata kadang buta, telinga diam tak berdaya.” Lirik ini menjadi pengingat untuk lebih peka terhadap hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Tanpa perlu banyak berpikir dan meragukan diri sendiri. Sekali Lagi mengajak setiap orang untuk terus maju…
Baca selengkapnyaMelancholy and Beautyfall Exulansis: Alunan Kebahagiaan dan Kesedihan yang Jalin-Berjalin dari band First Breath After Coma
Dari Bitung, Sulawesi Utara, semilir angin itu berhembus. Tenang dan membelai, sebelum secara perlahan menggulung menjadi pusaran sonikal nan emosional. Perkenalkan: First Breath After Coma, trio post-rock beranggotakan Giras Andhira Idrus (drummer), Kurnia Koko (bassist), dan Alfacino Singkay (gitaris). Lewat debut EP Melancholy and Beautyfall Exulansis, kita dibawa mengarungi kebahagiaan dan kesedihan yang jalin-berjalian dalam hidup. Tak ada batas tegas antara gelap terang; tak ada pembeda antara suka dan duka; keduanya menyatu, lebur dalam aliran notasi yang memberikan kesan sinematik. Nomor “Fifteen in Aries”, “Quiet Trip” dan “Sun and Moon” menyajikan…
Baca selengkapnyaLahir karena ambisi, KOBAR serukan “Kampanye Rock”
Sebuah band baru dengan entitas rock asal kota Soppeng (Sul-Sel) KOBAR merilis single perdana mereka bertajuk “Kampanye Rock”. Band yang digawangi oleh Fadil (Vocal), Rama (Guitar), Reza (Bass), & Cipung (Drum) seakan ingin memberi pesan yang begitu ambisius akan kehadiran mereka lewat single ini. Lagu “Kampanye Rock” ditulis & dikomposisikan sendiri oleh gitaris mereka (Rama) dengan tujuan menyerukan musik rock kembali dapat menggaungkan gemanya & terus dapat dinikmati dari generasi ke generasi tanpa harus selalu mengikuti arus yang ada. Dan mungkin terdengar klise namun bagi KOBAR akan selalu ada celah…
Baca selengkapnyaTardigrada Menghadirkan Lagu Terbaru Berjudul “Ranjuri”
Lagu ini menandai langkah maju signifikan dalam perjalanan musik mereka dan menjanjikan pengalaman mendalam bagi pendengar dengan lirik yang berarti dan melodi yang kuat dengan balutan music Ethnic Electonic Pop. “Ranjuri” adalah sebuah karya yang penuh dengan pesan dan keindahan alam. Diciptakan oleh Nashir Umar dan Sri Kurnia, lagu ini mencerminkan kisah magis tentang Hutan Ranjuri di Desa Beka, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Terletak hanya 13 kilometer dari pusat ibu kota Sulawesi Tengah, Palu, Hutan Ranjuri disebut sebagai “hutan purba” karena di dalamnya terdapat beberapa pohon yang usianya mencapai 600―700…
Baca selengkapnya