Berita Lain 

Backstagers Indonesia Gelar Sharing Session Bersama Promotor Ternama, Adrie Subono

Dunia pertunjukan terutama pertunjukan musik, semakin berkembang di tanah air. Hal ini terlihat dengan semakin maraknya konser, festival dan pertunjukan musik yang digelar oleh banyak promotor dan event organizer. Hampir setiap hari juga berlangsung berbagai acara musik baik yang menampilkan artis lokal sampai internasional.

Jakarta yang merupakan kota terbesar di Indonesia menjadi acuan daerah dan kota lain bagaimana sebuah acara musik digelar dengan baik. Namun demikian, ternayata masih banyak masalah dan hambatan di balik ramainya sebuah pertunjukan musik di Indonesia mulai dari persoalan perizinan, regulasi sampai pajak.

Selain itu, status kota Jakarta yang ke depannya sudah bukan ibukota negara juga menjadi perhatian dari berbagai pihak yang berkepentingan di bidang pertunjukan musik.

Hal-hal tersebut di atas, menjadi topik bahasan dalam acara ‘Al Wahhab “Iffar Happiness Hope” yang digelar oleh Forum Backstagers DPD DKI pada hari Rabu (3/4) di Papabro Cafe, Jakarta Selatan.

Acara yang mengusung konsep sharing session tersebut, dihadiri perwakilan Backstagers Indonesia dari berbagai daerah, nararsumber juga dari media.

Hadir dalam kesempatan tersebut sebagai narasumber adalah promotor legendaris tanah air Adrie Subono dan juga Harry ‘Koko Santoso selaku Advisory Board of Forum Backstagers Indonesia yang juga menjadi moderator di acara tersebut.

Adrie Subono yang notebene telah berkecimpung lama di dunia pertunjukan musik, berbagi pengalaman yang terjadi di Indonesia selama ia menjadi promotor. Nama Adrie Subono sendiri telah dikenal luas sebagai promotor yang berhasil mendatangkan banyak artis terkenal internasional ke Indonesia diantaranya Bruno Mars, Foo Fighters, Bring Me The Horizon, Angels and Airwaves dan masih banyak lagi.

“Saya sudah menghilang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saya berkecimpung di dunia promotor sekitar dua puluh tahun. Artis pertama yang saya datangkan adalah Saigon Kick. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari konser-konser awal. Saya jadi promotor karena jarang artis luat yang datang ke Indonesia. Nah artis paling cuma berhenti sampai Australia, Singapura. Padahal di Indonesia penontonnya banyak sekali dan penduduk Indonesia jutaan. Dan konser itu tidak cuma melulu. di Jakarta,. Di Australia mereka main di 4-5 kota, kenapa gak di kota-kota besar lainnya di Indonesia padahal pasarnya besar sekali untuk promotor menggelar konser mendatangkan artis-artis besar ke Indonesia. Itulah awalnya semangat saya membikin konser. Saya kemudian membuat perusahaan Java Musikindo yang khusus bergerak di bidang promotor.” cerita Adrie Subono.

Adrie Subono juga menyoroti peran pemerintah untuk memajukan dunia pertunjukan musik di Indonesia, “Kalau pemerintah mau menggelontorkan duit itu baik tapi masalahnya bukan disitu. Okelah sekarang ada kemudahan masalah perizinan daln lain-lain, tapi itu kan di atas aja kan? Di bawahnya kan masih ada kan? Perizinan bisa online tapi tetap aja perizinan gak keluar masih ada maslah. Untuk menyaingi Singapore, yah Singapore memang lebih hebat dari kita. Kalau mau mendatangan penonton di sekitar Indonesia, yah itu harus di Indonesia aja tidak di negara lain. Sekarang sejauh mana komitmen pemerintah. Jadi sekarang harus hati-hati. Sekarang waktunya yang tepat untuk kasih tau pemerintah masalah kita.”

Ketika ditanyakan apakah Adrie Subono masih tertarik menjadi promotor, ia mengungkapkan, “Beberapa promotor pernah dateng ke tempat saya, ‘Mas bikin dong kita satu, promotor A sama Java, Saya bilang, ‘Saya kalau kembali, saya harus mendatangkan satu yang besar, yang bisa gong banget gitu. Tunggu lah tanggal mainnya.”

Ketua Forum Backstagers Indonesia DPD DKI, Lingga Purwa Adji juga mengungkapkan, “Jakarta memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat hiburan internasional. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, kita biasa menciptakan pengalaman-pengalaman unik dan berkesan bagi bagi pengunjung dari seluruh dunia.”

Harry ‘Koko’ Santoso menutup acara sharing session dengan kesimputan, “Ada PR besar namanya izin keramaian. Ini PR besar untuk Backstagers. Di Indonesia ini dalam melakukan pekerjaan membuat kegiatan acara, itu penyelenggara harus punya yang namanya izin tempat, dari izin tempat menjadi kesediaan tempat untuk diajukan ke pihak Kepolisian. Pihak Kepolisian akan mengeluarkan rekomendasi untuk izinnya. untuk keramaian. Satu lagi, Pemerintah Daerah, berkaitan dengan pajak tontonan orang. Kalau semua itu bersatu, pasti tidak akan kesalahan. Sebenarnya sederhana.”

“Pada akhrinya, kunci keberhasilan Jakarta sebagai destinasi hiburan internasional terletak pada kolaborasi dan komitmen bersama. Kita perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan industri ini dan memastikan bahwa Jakarta bisa memunculkan budaya dan musik Indonesia yang beragam juga kearifan lokal Indonesia yang dikemas dalam event kelas dunia.” tutup Harry ‘Koko’ Santoso.

 

Related news