Tiga dekade adalah perjalanan panjang bagi sebuah band, terlebih untuk band indie yang tidak bergantung pada popularitas arus utama televisi, radio, atau platform digital. Namun itulah yang berhasil dilalui oleh Planetbumi, band indie asal Jakarta yang tetap bertahan hingga 30 tahun sejak berdiri pada 1996.
Band ini lahir di tengah gelombang musik alternatif dan britpop yang mulai mempengaruhi selera anak muda Indonesia pada pertengahan 1990-an. Saat itu, referensi musik banyak datang dari radio dan tayangan seperti MTV. Di era tersebut, musik dari band seperti The Smiths dan The Cure menjadi inspirasi kuat bagi banyak musisi independen lokal.
Bagi Planetbumi, kunci bertahan selama tiga dekade ternyata sederhana: bermain musik untuk kebahagiaan.
“Kami memang ngeband cuma untuk bahagia bawain musik yang kami suka, itu saja. Jadi populer juga jauh, kami punya kehidupan juga,” ujar Nyoman, vokalis Planetbumi.
Album Greatest Hits sebagai Perayaan 30 Tahun
Untuk merayakan perjalanan panjang tersebut, Planetbumi merilis album kompilasi “Still Here After 30 Years (1996–2026)”, sebuah rilisan greatest hits yang merangkum sebelas lagu pilihan dari empat album yang pernah mereka rilis sebelumnya.
Album ini didistribusikan oleh Tarsius Records, sub-label dari Anoa Records. Menariknya, liner notes album ditulis oleh Harlan Boer, sosok yang sudah lama mengenal perjalanan Planetbumi.
Menurut Nyoman, tulisan Harlan memiliki arti khusus bagi bandnya. “Tulisan Harlan benar-benar bagus bagi kami, karena dia tahu sekali perjalanan Planetbumi, dan persahabatan kami dengannya.”
Dari Poster Cafe ke Skena Indie 90-an
Hubungan antara Planetbumi dan Harlan Boer bermula dari skena gig Jakarta pada pertengahan 1990-an, khususnya di venue legendaris Poster Cafe. Di tempat inilah banyak band indie mulai membangun komunitas.
Planetbumi dikenal sering membawakan lagu-lagu dari Morrissey dan The Smiths, sementara band milik Harlan, Room V, dikenal sebagai band cover The Cure.
Dalam liner notes, Harlan mengenang pertemuan awalnya dengan Nyoman pada 1995. Ia mengingat sosok Nyoman yang kurus dengan kaos Morrissey bergambar sampul album Your Arsenal yang kebesaran.
Lagu “Rindu” dan Fenomena Indie di Radio
Momentum penting Planetbumi datang ketika lagu “Rindu” berhasil menembus tangga lagu Indolapan milik radio Prambors. Saat itu posisi mereka masih sebagai band unsigned, bersaing dengan lagu-lagu rilisan major label.
Secara mengejutkan, “Rindu” bahkan sempat bertahan dua minggu di posisi pertama. Fenomena ini memicu masuknya lebih banyak lagu dari band indie ke tangga lagu radio tersebut. Bahkan kemudian lahir program chart baru bernama Indielapan.
Dilirik Label Besar
Perjalanan Planetbumi semakin menarik ketika pada 1997 mereka dilirik oleh label besar Musica Studios untuk ikut dalam album kompilasi “Pesta Group”. Dalam rilisan tersebut, lagu “Rindu” dijadikan single utama, sementara Planetbumi juga menyumbang lagu “Embun Malam”.
Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Skena
Meski skena musik terus berubah, Planetbumi tetap bertahan dengan formasi inti yang terdiri dari Nyoman (vokal), Molly (bass), Helmi (gitar), dan Ekky (gitar).
Rilisan piringan hitam dan kaset dari album Greatest Hits ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga menjadi awal baru bagi perjalanan mereka.
“Kami berencana merekam lagu-lagu baru dan manggung bersama band muda, dan siapa pun. Berteman adalah resep kami bisa langgeng, dan teman baru selalu menyenangkan,” tutup Nyoman.








![[PHOTO] KURI 2.0 - FRONT.PNG](https://dapurletter.id/wp-content/uploads/2026/05/PHOTO-KURI-2.0-FRONT.PNG-200x112.jpg)