Band asal Jepang, First Love Is Never Returned (FLiNR), resmi memasuki babak baru dalam perjalanan musik mereka lewat album penuh terbaru bertajuk “W.O.R.K.S.”. Album ini menjadi rilisan penting karena untuk pertama kalinya karya mereka didistribusikan secara nasional melalui toko CD fisik di Jepang, sekaligus menandai debut major mereka secara resmi.
Menariknya, album tersebut dibuka dengan lagu “退職代行 Taisyoku Daikou”, yang mengangkat fenomena unik di Jepang berupa layanan yang memungkinkan seseorang meminta pihak lain untuk mengurus pengunduran dirinya dari pekerjaan.
Konsep tersebut diterjemahkan FLiNR menjadi lagu yang menggambarkan absurditas dan tekanan dunia kerja secara tajam, tetapi tetap dikemas dengan karakter musik yang dinamis.
Lagu “退職代行 Taisyoku Daikou” ditulis oleh vokalis Kazuki Ishida. Struktur lagunya dibuat semakin intens, terutama melalui perubahan karakter pada bagian chorus pertama dan kedua. Tiga vokalis FLiNR digunakan untuk merepresentasikan ketegangan antara posisi karyawan dan atasan.
Sentuhan funk yang semakin cepat turut memperkuat atmosfer kecemasan yang menjadi tema utama lagu. Music video-nya disutradarai Honoka Saito dan menghadirkan Tosa Brothers, Lucifer Yoshioka, serta YouTuber Tamura Kae dalam format film pendek komedi yang masih berkaitan dengan tema pengunduran diri tersebut.
“W.O.R.K.S.” Jadi Album dengan Lima Perspektif
Salah satu hal yang membuat “W.O.R.K.S.” berbeda adalah seluruh anggota FLiNR mendapatkan kesempatan menjadi penulis lagu.
Selain Kazuki Ishida, Keita Kotakemori, Arata Yamamoto, Mizuki Tsunemoto, dan Yuji Sato masing-masing menyumbangkan lagu sebagai songwriter utama.
Album ini berisi 12 lagu, dengan enam di antaranya merupakan materi baru. Nama “W.O.R.K.S.” sendiri memiliki sejumlah interpretasi yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan dan musik mereka, mulai dari work, weekend, weekday, hingga office, ordinary, only, open, serta real, rock, rhythm & blues.
Dengan konsep tersebut, album ini tidak sekadar menampilkan satu perspektif vokalis utama, tetapi menjadi representasi dari lima karakter dan pengalaman berbeda yang hidup berdampingan dalam satu band.
Dari Pop-Punk hingga AOR
Keragaman musikal FLiNR semakin terlihat melalui lagu-lagu di dalam album.
“TPTTC”, yang telah mereka bawakan sejak 2019, menjadi lagu berbahasa Inggris pertama mereka. Lagu ini memadukan nuansa pop-punk era 2000-an dengan karakter US pop era 2020-an dan harmonisasi vokal ala boyband.
Arata Yamamoto menghadirkan “Atrium”, sebuah lagu dengan groove mid-tempo berbasis loop yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap musik Michael Jackson.
Sementara itu, Keita Kotakemori menghadirkan “期末評価会議 Kimatsu Hyouka Kaigi”, yang dibuat sebagai semacam percakapan dari sisi berbeda dengan “退職代行 Taisyoku Daikou”. Lagu tersebut membawa frustrasi terhadap dunia kerja ke dalam nomor live paling berat yang pernah direkam FLiNR.
Dua lagu lainnya, “Twilight” karya Mizuki Tsunemoto dan “ミッドナイトブルー Midnight Blue” karya Yuji Sato, memperkaya album dengan pengaruh US pop era 1980-an serta fusion-infused AOR.
Edisi Blu-ray Hadir dengan Materi Eksklusif
FLiNR juga menyiapkan edisi CD+Blu-ray yang berisi dokumentasi konser utama pertama mereka di Shibuya Club Quattro secara penuh.
Pertunjukan tersebut berlangsung sold out dan menjadi momen penting karena album “W.O.R.K.S.” pertama kali diumumkan di atas panggung tersebut.
Blu-ray turut menghadirkan dokumenter perjalanan FLiNR dari kampung halaman mereka di Sapporo, lengkap dengan wawancara kelima personel. Secara keseluruhan, edisi ini menawarkan hampir tiga jam materi audiovisual.
Siap Gelar Tur “W.O.R.K.S.” di Lima Kota
Setelah merilis album, First Love Is Never Returned akan membawa materi “W.O.R.K.S.” dalam tur bertajuk #FLiNR ONE-MAN TOUR 26-27 ‘W.O.R.K.S.’.
Tur tersebut akan berlangsung dalam enam pertunjukan di lima kota mulai November 2026 hingga Januari 2027.
Rangkaian tur mencakup penampilan perdana mereka sebagai headline di Nagoya dan Fukuoka, serta pertunjukan dengan kapasitas terbesar mereka sejauh ini di Tokyo melalui Zepp Shinjuku dan Osaka melalui BIGCAT.
Sementara itu, Sapporo mendapatkan dua pertunjukan yang menjadi pembuka dan penutup tur. Konser pembuka digelar di VyPass., venue yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan awal mereka, sebelum rangkaian tur ditutup di Penny Lane 24.
Menariknya, seluruh personel First Love Is Never Returned masih menjalani pekerjaan reguler mereka di luar aktivitas bermusik. Kondisi tersebut justru menjadi bagian penting dari identitas album terbaru mereka.
Selama bertahun-tahun, FLiNR mengaku tidak sedang mengejar status sebagai band major. Namun melalui “W.O.R.K.S.”, mereka akhirnya memasuki fase tersebut dengan cara yang mereka pilih sendiri—menulis cerita tentang pekerjaan, kehidupan, tekanan, dan musik berdasarkan pengalaman lima orang yang benar-benar menjalaninya.
“W.O.R.K.S.” pada akhirnya bukan hanya album debut major First Love Is Never Returned, tetapi juga dokumentasi tentang bagaimana lima individu mengubah realitas kehidupan sehari-hari menjadi karya musik.













