Di Balik Ramainya Bukber, Tersimpan Cerita Rindu yang Kembali Hidup

  • Whatsapp

Ramadan kembali menghadirkan satu tradisi yang tak pernah sepi peminat: buka puasa bersama atau bukber.

Di berbagai sudut kota, kafe hingga rumah makan dipenuhi tawa dan obrolan hangat menjelang azan Magrib. Salah satu suasana itu terlihat di Kopi Tjan Kayu Putih pada Sabtu (28/2/2026), ketika puluhan orang berkumpul bukan hanya untuk berbuka, tetapi untuk menghidupkan kembali kenangan lama.

Bacaan Lainnya

Bukber kini bukan sekadar agenda makan bersama.

Ia berubah menjadi ruang temu — tempat rindu yang lama tertunda akhirnya menemukan waktunya.

Grup alumni yang biasanya sunyi mendadak aktif. Nama-nama lama muncul kembali. Percakapan dimulai dari hal sederhana:

“Masih ingat dulu?”

Kalimat pendek yang sering kali langsung disambut tawa panjang.

Santi (29), salah satu peserta bukber, merasakan momen itu lebih dari sekadar pertemuan biasa.

“Ini bukan cuma buka puasa. Ini seperti kembali ke masa sekolah, melepas rindu yang sudah lama tertahan,” ujarnya.

Obrolan yang awalnya canggung perlahan mencair. Cerita tentang guru favorit, kenakalan masa remaja, hingga mimpi yang dulu terasa jauh kembali menjadi bahan tawa.

Di sinilah bukber menemukan maknanya.

Ramadan memberi alasan yang tepat untuk menyambung kembali hubungan yang sempat terputus oleh waktu dan kesibukan.

Lebih dari itu, pertemuan semacam ini juga membuka ruang baru. Sahabat lama yang kini meniti karier berbeda mulai saling berbagi cerita hidup — bahkan tak jarang menemukan peluang kolaborasi dari meja makan yang sama.

Tradisi ini pun berkembang.

Sebagian komunitas mulai mengubah bukber menjadi kegiatan sosial, seperti berbagi makanan kepada yang membutuhkan atau mengajak anak yatim berbuka bersama.

Bukber tak lagi sekadar kumpul.

Ia menjadi simbol empati.

Namun di tengah hangatnya suasana, satu hal tetap diingatkan: esensi Ramadan tidak boleh hilang. Salat Magrib dan Tarawih tetap menjadi prioritas di atas segala aktivitas sosial.

Pada akhirnya, bukber bukan tentang tempat paling estetik atau menu paling mahal.

Ia tentang memperbaiki hubungan.

Tentang kembali saling mengenal setelah lama berjalan di jalur masing-masing.

Dan tentang bagaimana Ramadan selalu menemukan cara untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah saling berarti.

Pos terkait