Korupsi sering dipersepsikan sebagai kejahatan besar yang hanya melibatkan elit politik dan kerugian negara bernilai fantastis. Padahal, praktik ketidakjujuran justru kerap berawal dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Isu ini diangkat oleh mahasiswa Performing Arts Communication (PAC) Batch 27 LSPR Institute of Communication and Business melalui acara “Invisible Chains: How Small Acts of Corruption Hold Us Back”. Kegiatan yang diselenggarakan Kalavana Productions pada 16 Desember 2025 di LSPR Sudirman Park, Jakarta, ini mengusung format hybrid, menggabungkan acara luring dan daring.
Invisible Chains merupakan proyek mata kuliah Event Management dan M.I.C.E yang berkembang menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya integritas. Dengan metafora “rantai tak kasat mata”, acara ini menyoroti praktik yang sering dianggap sepele di lingkungan kampus, seperti titip absen, free-riding dalam tugas kelompok, dan plagiarisme.
Strategi komunikasi acara ini dirancang khusus untuk Generasi Z usia 18–24 tahun. Tanpa pendekatan menggurui, pesan antikorupsi disampaikan melalui talkshow bersama aktivis sosial dan kreator konten agar tetap relevan dengan audiens yang kritis dan aktif secara digital.
Selain diskusi, Invisible Chains menghadirkan pameran interaktif berupa instalasi visual dan permainan edukatif. Pengunjung diajak memahami dampak akumulatif dari korupsi kecil melalui pengalaman langsung yang membangun keterlibatan emosional, bukan sekadar pemahaman kognitif.
Dengan estimasi jangkauan sekitar 500 peserta, kegiatan ini menunjukkan bahwa kampanye antikorupsi dapat dikemas secara kreatif dan komunikatif. Sebagai langkah berkelanjutan, Kalavana Productions juga menyiapkan pertunjukan teater “Broken Chord: The Musical” yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026, menegaskan komitmen LSPR dalam membangun budaya integritas melalui seni pertunjukan berdampak sosial.








