Not for Majority, Kritik Sosial Laung dalam Masyarakat yang Chaotic dan Sarat akan Power Abuse

- Penulis

Jumat, 21 Juni 2024 - 14:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tunjukkan eksistensi pada debut single “Killed in a Subtle Way” pada September 2023 lalu, Laung akhirnya memperlihatkan taring mereka seutuhnya kepada masyarakat dalam EP “Not for Majority” yang rilis pada 14 Juni 2024 ini.

Sesuai dengan pemilihan judul yang dipilih, “Not for Majority” gambarkan dominasi mayoritas pada segala aspek kehidupan yang membatasi gerak atau suara atas minoritas.

Tak berhenti disitu, dominasi ini mengakibatkan pergeseran nilai dan kebenaran sosial sehingga mengaburkan mana yang benar dan salah, semua mengacu pada kebenaran semu yang diamini oleh banyak orang dan bergantung pada sistem yang menguntungkan secara sepihak.

Merupakan penindasan secara tidak langsung, serta upaya-upaya perlawanan terhadap sistem-sistem dzolim dan power abuse yang kerap terjadi.

Terlepas dari hal tersebut “Not for Majority” juga menggambarkan upaya Laung menyuguhkan musik alternatif kepada pendengar-pendengar baru yang masih asing dengan warna musik demikian.

Warna musik yang diangkat oleh band asal Malang ini berupa rap rock berdistorsi cadas dan lirik kritis nan pedas.

Mereka erinspirasi dari nama-nama band besar seperti RATM, Body Count, hingga Limp Bizkit.

Dan Laung yang berformasi Zaky (gitar), Billy (bass), Adit (drum), dan Ocid (vokal) menyuarakan kembali kritik-kritik sosial dengan makna yang luas, tak hanya menyenggol satu pihak.

Baca Juga :  Honda Scoopy Resmi Diluncurkan lewat Regional Public Launching

Proses perekaman “Not for Majority” memakan waktu sekitar 1 tahun, dikerjakan di UKM KOMMUST Studio dengan Ali Husin sebagai operator. Waktu yang cukup lama ini diakibatkan beberapa kendala antara lain kesibukan tiap personil yang berbeda, mengejar gelar sarjana, hingga bekerja paruh waktu.

Dalam perekaman E.P. ini Laung juga sempat mengalami kehilangan file lagu pertama mereka dan memakan waktu yang agak lama untuk menemukannya, lalu pada saat perekaman lagu kelima penggarapan riff dan flow vokal dilakukan secara spontan saat sedang rekaman.

“Not for Majority” berisikan 5 lagu yang berkaitan satu sama lain. EP ini dibuka dengan “Not for Majority” lalu disusul dengan “Killed in a Subtle Way”, pada urutan ketiga “People Who Try to Change The Order” disambung “Nobody’s Fool” dan ditutup oleh “Clear That Way”.

Secara keseluruhan EP ini memiliki struktur berupa rumusan masalah pada 3 lagu pertama, analisis pada lagu keempat, dan kesimpulan pada lagu terakhir.

Jika dibedah tiap lagu, pada “Not for Majority” adalah contoh nyata kendali mayoritas pada permainan sistem yang mengharuskan setiap orang dari masyarakat untuk mengikutinya.

Baca Juga :  Neev Umumkan Single baru 'Dianne'

Hal ini menjadi penindasan tidak langsung karena tidak adanya ruang gerak atau suara untuk menyanggah atau membantah. Lalu “Killed in a Subtle Way” singkatnya adalah penggambaran fanatisme buta yang kerap terjadi tak hanya secara vertikal, melainkan juga horizontal pada lingkungan sekitar kita. Fenomena ini mengarahkan masyarakat kepada kehancuran diri.

Pada lagu selanjutnya “People Who Try to Change The Order” mengarah pada keegoisan akan individu atau kelompok mayoritas yang melakukan praktik power abuse untuk mengubah sistem dengan tujuan keuntungan sendiri. Hal ini membuat mereka memutuskan segalanya sesuai dengan keinginan dan keegoisan sendiri di atas kehendak dan hak-hak orang lain, dalam kasus ini adalah minoritas.

Disusul “Nobody’s Fool” yang merupakan upaya perlawanan dalam menyikapi fenomena pada 3 lagu pertama.

Arti pada lagu ini adalah meningkatkan awareness akan hal di sekitar kita, menyatakan bahwa kita semua tidaklah bodoh, kita mampu mencerna dan berpikir kritis akan semua hal yang terjadi saat ini.

Lalu “Clear That Way” sebagai penutup adalah jalan yang dilalui Laung dalam menyuarakan apa yang memang tidak pantas.

Terdapat satu penggalan lirik yang disorot yaitu “Who’s got the power?” yang mana adalah pernyataan bahwa kita semua, memiliki kekuatan untuk menyuarakan hak-hak kita di atas ketidakadilan, semua dimulai dari diri kita sendiri.

Follow WhatsApp Channel dapurletter.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Delima Mandiri dan DFSK Luncurkan Solusi Bisnis DFSK, Kendaraan Niaga dan Karoseri dalam Satu Paket
Yonanda Galuh Puspitasari Hadir di WCCE 2026, Bawa Semangat Ekonomi Kreatif Daerah ke Panggung Dunia
Dicinta Duakali Hadirkan Pasar Preloved Berbalut Aksi Donasi di Kemang
PEVS 2026 Catat 35.257 Pengunjung, Optimisme Industri Kendaraan Listrik Kian Menguat
PEVS 2026 Semakin Meriah Jelang Penutupan, Pengunjung Bisa Test Drive Kendaraan Listrik hingga Berburu Cashback Rp2,5 Juta
PEVS 2026 Banjir Promo Kendaraan Listrik, Cashback Rp200 Juta hingga Diskon Rp6 Juta
Jakarta Fair Kemayoran 2027 Siap Digelar Lebih Spektakuler, Hadirkan Area Baru dan Perayaan 500 Tahun Jakarta
Film Laut Bercerita Raih 180.292 Penonton pada Hari Pertama Tayang

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 00:27 WIB

Delima Mandiri dan DFSK Luncurkan Solusi Bisnis DFSK, Kendaraan Niaga dan Karoseri dalam Satu Paket

Selasa, 3 November 2026 - 09:07 WIB

Yonanda Galuh Puspitasari Hadir di WCCE 2026, Bawa Semangat Ekonomi Kreatif Daerah ke Panggung Dunia

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Dicinta Duakali Hadirkan Pasar Preloved Berbalut Aksi Donasi di Kemang

Senin, 2 November 2026 - 12:26 WIB

PEVS 2026 Catat 35.257 Pengunjung, Optimisme Industri Kendaraan Listrik Kian Menguat

Minggu, 1 November 2026 - 00:46 WIB

PEVS 2026 Semakin Meriah Jelang Penutupan, Pengunjung Bisa Test Drive Kendaraan Listrik hingga Berburu Cashback Rp2,5 Juta

Berita Terbaru

error: Content is protected !!